Di era media sosial sekarang ini, kebebasan seseorang tidak lagi ada batas hingga “kebablasan”. Gosip menjadi tren atau entitas baru seiring semakin berkembangnya media sosial dan sangat diminati oleh para netizen (sebutan pengguna media sosial). Banyak akun-akun gosip bertebaran di berbagai platform media sosial baik facebook, twitter, maupun instagram. Akun-akun ini memiliki jutaan pengikutnya lewat postingan-postingan yang menyentil, memancing spekulasi, bahkan menggiring opini. Hanya dalam satu postingan, karir seseorang dapat hancur seketika. Informasi yang masih belum jelas kebenarannya pun menjadi buah bibir netizen di kolom komentar bahkan seringkali terjadi pertengkaran antara sesama netizen apalagi terkait isu yang sangat sensitif seperti politik dan SARA. Netizen tak segan-segan menuangkan semua kritikan tajam terhadap para publik figur yang menjadi postingan akun gosip tersebut bahkan dapat menjadi fitnah tanpa memikirkan bagaimana perasaan, psikis, dan segala akibat yang dapat terjadi atas “bahan yang diberitakan” tersebut. Lalu apakah akun gosip dan netizen yang berkomentar ini dapat dipidana? Siapakah yang dapat melaporkan mereka?

Berdasarkan Pasal 27 ayat (3) UU ITE, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Ancaman pidana bagi orang yang melanggar Pasal 27 ayat (3) ini adalah pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Sedangkan bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ancaman pidana bagi pelanggar Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut adalah pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU ITE merupakan delik aduan karena telah disebutkan secara jelas dalam UU 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik serta mengacu pada ketentuan penghinaan atau pencemaran nama baik yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”), dimana dalam KUHP diatur dengan tegas bahwa penghinaan merupakan delik aduan. Sehingga siapapun yang merasa namanya telah dicemarkan atas postingan akun gosip dan komentar-komentar para netizen dapat melaporkan atas pelanggaran Pasal 27 ayat (3) UU ITE tersebut. Setiap orang memiliki hak kebebasan pribadi yang harusnya dilindungi sebagaimana diatur dalam UU Nomor 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM). Ketentuan Pasal 21 UU HAM, setiap orang berhak atas keutuhan pribadi, baik rohani maupun jasmani, dan karena itu tidak boleh menjadi obyek penelitian tanpa persetujuan darinya. Seringkali pula akun  gosip memposting para publik figur yang berpindah keyakinan sehingga menimbulkan pro dan kontra di kolom komentar dengan bahasa yang dapat melukai umat lainnya. Padahal merupakan hak setiap orang untuk bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu sebagaimana diatur dalam UUD NRI 1945.

Mungkin pepatah mulutmu harimaumu sudah tidak relevan di era sekarang karena yang lebih berbahaya adalah jarimu harimaumu dan jeruji besi bisa saja menantimu apabila tidak berhati-hati dalam bersosial media. Akun-akun gosip yang memiliki followers berjuta-juta semoga lebih bisa mempergunakan secara bijak dengan memberikan pengaruh positif kepada generasi muda. Jangan sampai membentuk karakter menggunjing merupakan hal lumrah bagi generasi penerus bangsa.

Salam KJD!!